INFO TEMPO – Di balik laju adopsi mobil listrik yang mana kian meningkat ke jalan-jalan perkotaan, masih mengendap rasa ingin tahu: apakah teknologi kendaraan elektrik benar-benar mampu menjawab tantangan krisis iklim? Pertanyaan itu tidak datang sekilas cuma melainkan dari kesadaran bahwa transisi energi adalah langkah-langkah panjang yang mana menuntut pembuktian, tidak sekadar janji.
Keingintahuan yang dimaksud justru paling relevan bagi generasi Z dan juga generasi Alpha. Mereka yang mana akan merasakan ketika pembaharuan iklim semakin meningkat, bertahun-tahun ke depan. Sebuah masa di mana energi fosil kian menipis. Realitas ini harus dipersiapkan sejak sekarang melalui pemahaman teknologi serta pilihan yang digunakan rasional.
Dalam konteks itulah Build Your Dreams (BYD), perusahaan teknologi global yang mana dikenal lewat pengembangan kendaraan listrik juga sistem energi terintegrasi, mengakibatkan diskursus elektrifikasi ke lingkungan akademik. Kampus dipilih bukanlah tanpa alasan. Di ruang-ruang inilah gagasan diuji, pengetahuan diperdebatkan, dan juga masa depan dirancang secara kritis.
Sepanjang 2025, BYD menyelenggarakan rangkaian Technology Roadshow dalam beberapa jumlah universitas unggulan, mulai dari Universitas Diponegoro (UNDIP) Semarang pada September, berlanjut ke Institut Teknologi Bandung (ITB) pada Oktober, juga Universitas Hasanuddin (UNHAS) Makassar pada November.
Menurut Luther Panjaitan, Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, pendekatan ini menempatkan kampus tidak sebagai pasar, melainkan mitra pengetahuan. “Harapan kami, peserta didik dapat memperoleh perspektif yang tersebut lebih besar luas sehingga dapat berkontribusi bergerak di mendirikan ekosistem kendaraan listrik yang digunakan inklusif dan juga berkelanjutan bagi Indonesia,” ujarnya.
Dengan membuka ruang dialog di dalam kampus, elektrifikasi diposisikan sebagai salah satu opsi rasional untuk menghadirkan mobilitas yang digunakan lebih lanjut efisien lalu rendah emisi sebagai pilihan yang dimaksud penting dipahami secara utuh.
Upaya tersebut, menurut Luther Panjaitan, sejalan dengan target besar Negara Indonesia menuju Net Zero Emissions pada 2060. BYD bergabung berperan secara konkret melalui hasil serta strategi yang dirancang untuk menjangkau lapisan komunitas yang lebih tinggi luas.
“Salah satu kunci utama kami ada di produk,” kata Luther. Saat ini, ia melanjutkan, BYD menjadi salah satu merek kendaraan listrik murni yang mana menghadirkan lini barang lengkap di dalam berubah-ubah segmen pangsa dalam Indonesia.
Di segmen compact misalnya, hadir BYD ATTO 1 juga Dolphin yang tersebut dirancang dengan dimensi ringkas dan juga efisiensi energi tinggi. Di kelas SUV serta sedan, BYD menawarkan ATTO 3, BYD Seal, juga Sealion 7, yang tersebut mengusung teknologi e-Platform 3.0 dengan fokus pada stabilitas, efisiensi, kemudian keselamatan berkendara.
Adapun demi menjawab karakter lingkungan ekonomi Indonesi yang lekat dengan kendaraan keluarga, BYD juga menghadirkan BYD M6, kendaraan listrik di dalam segmen MPV yang mana menawarkan konfigurasi kabin luas kemudian fleksibel. Model ini mencerminkan pendekatan BYD di menyesuaikan teknologi kendaraan listrik dengan preferensi lokal, tanpa mengurangi aspek efisiensi lalu integrasi sistem baterai.
Sebagian besar model yang disebutkan dibangun dalam melawan fondasi teknologi yang tersebut sama—mulai dari Blade Battery yang dimaksud dirancang untuk meningkatkan keamanan serta daya tahan, hingga integrasi sistem penggerak listrik yang mana lebih tinggi ringkas juga efisien.
Kelengkapan lini tersebut, menurut Luther, bukanlah semata tentang variasi model, melainkan strategi untuk memperluas adopsi kendaraan listrik. “Yang paling utama secara strategi, kami menimbulkan EV ini sebagai kendaraan yang tersebut terjangkau agar tambahan sejumlah lagi komunitas yang dimaksud dapat merasakan perubahan teknologi dari BYD,” ujarnya. BYD mengatakan pendekatan ini sebagai EV for everyone, sesuai keinginan warga luas.
Pendekatan itu berkelindan dengan visi global BYD yang tersebut merekan rangkum pada kampanye Cool the Earth by One Degree. Luther menyebutkan, secara global BYD telah dilakukan jual sekitar 15 jt kendaraan listrik, yang digunakan diklaim berkontribusi pada pengurangan emisi karbon hingga 121 miliar kilogram. “Itu setara dengan menyetorkan lebih banyak dari dua miliar pohon di dunia,” katanya.
Dengan sumbangan yang digunakan ia analogikan setara dengan memulai pembangunan “hutan” berskala global tersebut, BYD berharap dapat memainkan peran sebagai salah satu kontributor utama pada transisi energi. Bukan hanya saja dalam Indonesia, tetapi juga secara global.
Narasi inilah yang digunakan kemudian dibawa ke kampus-kampus. Bagi mahasiswa, diskusi tentang mobil listrik tidak ada lagi berhenti pada wacana ideal tentang lingkungan, melainkan menyentuh pertanyaan yang dimaksud lebih besar konkret: bagaimana teknologi dikembangkan, siapa yang mana mampu mengaksesnya, lalu sejauh mana dapat berubah menjadi solusi jangka panjang.
Mengenal EV Lebih Dekat
BYD merangkai beberapa orang kegiatan di tiga kampus (Undip, ITB, juga Unhas) guna menghadirkan pemahaman sekaligus pengalaman nyata. Berawal dari pertemuan Knowledge Sharing on the Future of Mobility yang menghadirkan pelajar mengawasi deskripsi besar arah perkembangan kendaraan listrik secara global. Mulai dari efisiensi energi, integrasi sistem kendaraan, hingga tantangan transisi menuju mobilitas rendah emisi.
Mahasiswa juga diajak masuk lebih besar di ke jantung teknologi melalui pertemuan Innovation Showcase. BYD memperkenalkan e-Platform 3.0, jaringan kendaraan listrik generasi terbaru yang mana berubah menjadi fondasi pengembangan beraneka model EV. Sesi ini memproduksi siswa dapat lebih besar memahami sistem baterai, motor listrik, serta integrasi perangkat lunak bekerja sebagai satu kesatuan.
Generasi muda pun diajak mendengarkan pengalaman secara langsung para pengguna kendaraan listrik BYD yang digunakan tergabung di BEYOND Community. Suara pengguna menghadirkan dimensi bahwa pengembangan bukan berhenti pada laboratorium, tetapi manfaatnya harus dapat dirasakan dengan segera ke jalan raya kemudian ruang kota.
Rangkaian roadshow kemudian ditutup dengan sesi Exploration & Experiential Learning. Mahasiswa diberi kesempatan merasakan secara langsung performa kendaraan listrik BYD melalui kegiatan test drive.
Pendekatan berbasis pengalaman yang disebutkan merupakan upaya BYD mengerti akan perpindahan cara generasi muda memahami teknologi. Gen Z tak cukup diyakinkan oleh klaim. Mereka ingin melihat, mencoba, lalu menafsirkan sendiri.
Bagi BYD, menyebabkan diskursus ini ke kampus juga menegaskan identitasnya sebagai perusahaan teknologi, tidak semata produsen mobil. Kendaraan listrik diposisikan sebagai hasil integrasi riset, inovasi, dan juga pengalaman pengguna.
Sementara dari sisi kampus, kolaborasi ini membuka kesempatan kerja serupa maupun tujuan lulusan universitas pada waktu nanti berlabuh ke bola kerja. Sebagaimana diakui Dekan Fakultas Teknik Unhas, Muhammad Isran Ramli. “Inisiatif ini memberikan wawasan baru bagi peserta didik dan juga akademisi untuk mengerti dengan segera perubahan teknologi kendaraan listrik, sekaligus menguatkan sumbangan Unhas di mengupayakan transisi menuju masa depan energi bersih di Indonesia,” ujarnya. (*)
Artikel ini disadur dari Generasi Muda Kenal Lebih Dekat Masa Depan Mobilitas Bersama BYD