INFO TEMPO – Kehadiran mobil listrik kian diterima masyarakat. Menurut data Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesi (Gaikindo), transaksi jual beli kendaraan listrik berbasis sel (BEV) mencapai 103.931 unit sepanjang 2025. Angka ini melonjak 141 persen dibandingkan 2024 yang digunakan berada ke level 43.188 unit, sekaligus menyumbang 12,9 persen dari total wholesales otomotif nasional.
Capaian yang dimaksud lahir di dalam berada dalam status lingkungan ekonomi mobil konvensional yang justru mengalami tekanan. Dalam lanskap bidang yang melambat, mobil listrik justru muncul sebagai segmen yang berkembang agresif dan juga memperluas basis konsumen.
Menilik 10 mobil listrik terlaris sepanjang 2025 dari data Gaikindo, BYD Atto 1 menjadi pemimpin jualan dengan 22.582 unit. Letak berikutnya ditempati BYD M6 yang digunakan terjual 10.862 unit, disertai BYD Sealion 07 dengan 8.402 unit.
Cukup mengejutkan, BYD (Build Your Dreams) adalah pendatang baru yang digunakan secara langsung berhasil menyodok lingkungan ekonomi EV di Indonesia. Fenomena paling menonjol datang dari BYD Atto 1. Meski baru dipasarkan sejak Oktober, model ini segera berubah menjadi mobil listrik terlaris hanya saja pada tiga bulan terakhir, hingga akhir penghitungan data pemasaran ke 2025. Kecepatan penetrasinya menjadikan Atto 1 tidak sekadar komoditas baru, melainkan menyebabkan pembaharuan preferensi pasar.
Head of Public and Government Relations PT BYD Motor Indonesia, Luther Panjaitan, menyampaikan lonjakan ini bukan dapat dilepaskan dari menguatnya penetrasi kendaraan listrik secara nasional. Sepanjang 2025, penetrasi EV di Indonesia sudah pernah mencapai sekitar 12 persen, bahkan meningkat signifikan pada kuartal terakhir tahun lalu.
“Khusus pada periode Oktober sampai Desember, penetrasi EV telah mencapai 18 persen. Artinya, hampir dua dari satu puluh mobil yang dimaksud terjual pada Nusantara pada waktu ini adalah kendaraan listrik,” ujar Luther.
Menurut dia, tempat BYD pada ekosistem yang disebutkan juga terbilang dominan. Dengan perdagangan lebih tinggi dari 53 ribu unit sepanjang 2025, BYD berkontribusi besar terhadap pertumbuhan pangsa kendaraan listrik nasional. “BYD sendiri menyumbang sekitar 57 persen dari total pangsa pangsa EV dalam Indonesi sepanjang 2025,” kata Luther.
Secara keseluruhan, pelanggan BYD pada 2025 setara dengan 6,74 persen dari total lingkungan ekonomi otomotif nasional yang dimaksud mencapai 803.691 unit. Angka ini melonjak tajam dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2024, BYD membukukan perdagangan 15.429 unit dengan pangsa pangsa sekitar 1,78 persen. Dalam satu tahun, posisinya berubah drastis.
Gaikindo juga membeberkan penyebab BYD laris manis di pasaran. Setidaknya ada empat alasan utama. Pertama, biaya mobil pabrikan dengan syarat China ini berani bersaing. Misalnya untuk model BYD Atto 1 hanya saja dibanderol di dalam kisaran Rupiah 199 jutaan. Langkah ini memberikan efek kejut luar biasa bagi bursa nasional, akibat untuk pertama kalinya penduduk diberikan opsi kendaraan masa depan dengan harga jual bersaing secara langsung dengan mobil kelas LCGC maupun Low MPV yang mana selama ini merajai jalanan.
BYD juga cerdas membaca karakter konsumen Indonesi yang mana sangat mengutamakan kapasitas keluarga. Alih-alih hanya sekali berfokus pada mobil perkotaan berukuran kecil, BYD meluncurkan model M6 yang menjadi MPV listrik murni pertama dengan nilai terjangkau. Respons pangsa pun sangat masif. Pada periode Agustus 2025 saja, model ini mampu terserap ribuan unit sebab tiada adanya kompetitor yang tersebut bermain di celah “mobil keluarga listrik” tersebut.
“Salah satu kunci utama itu adalah kita ke produk. Saat ini BYD adalah satu-satunya brand EV murni yang digunakan mempunyai line up yang paling lengkap dari semua segmen diantaranya SUV, sedan, segmen hatchback, juga MPV,” tutur Luther. “Dan yang tersebut paling utama, kami menimbulkan EV ini jadi kendaraan yang terjangkau harganya.”
Selain faktor harga jual serta varian produk, factor kepercayaan konsumen bermetamorfosis menjadi pilar utama ke balik kesuksesan BYD. Ketakutan rakyat akan risiko kebakaran pada sel mobil listrik dijawab dengan sangat efektif melalui kampanye teknologi Blade Battery. Teknologi ini berubah jadi pembeda utama oleh sebab itu daya tahannya yang dimaksud ekstrem serta keamanan yang mana teruji secara global, sehingga mampu menyita perhatian minat pembeli pertama yang sebelumnya ragu berpindah dari mobil bensin.
Kepercayaan penduduk juga bertumbuh begitu mendengar komitmen pembangunan ekonomi sekitar US$ 1 miliar untuk pembangunan pabrik dalam Subang, Jawa Barat. Artinya, BYD tak belaka datang untuk berjualan, melainkan untuk merancang sistem ekologi jangka panjang.
Komitmen tersebut, menurut Luther, sejak awal memang benar dirancang melampaui kepentingan pemasaran jangka pendek. Ketika BYD memutuskan berinvestasi di Indonesia, perusahaan mempertimbangkan secara kritis kerja serupa dengan mitra lokal sebagai bagian dari strategi jangka panjang.
“Sejak pertama kali BYD memutuskan melakukan pembangunan ekonomi pada Indonesia, kami sangat mempertimbangkan aspek kerja identik dengan lokal. Hal ini bukanlah hanya sekali persoalan pengiriman teknologi, tapi juga perihal supplier juga nilai tambah yang dimaksud bisa jadi diberikan terhadap lingkungan dalam sekitar BYD,” ujar Luther.
Pendekatan itu tercermin di perkembangan ekosistem bidang usaha BYD ke Indonesia. Bukan belaka jaringan perdagangan serta pabrik perakitan, tetapi juga infrastruktur pendukung lain yang dimaksud dirancang dengan melibatkan mitra domestik. “Selain jaringan pelanggan serta pabrik, seluruh infrastruktur pendukung kegiatan bisnis kami juga didasarkan pada optimalisasi mitra lokal. Untuk manufaktur, ini bahkan sudah ada menjadi requirement dari kementerian agar kami berpartner dengan mitra pada negeri,” kata Luther.
Dari sisi pengembangan sumber daya manusia, BYD juga menempatkan pemindahan pengetahuan sebagai jadwal utama. Banyak calon engineer lalu karyawan lokal telah lama dikirim untuk mendapatkan edukasi segera mengenai teknologi kendaraan listrik yang dimaksud dikembangkan BYD. “Kami sudah ada mengirimkan beratus-ratus calon engineer dan juga karyawan lokal untuk mendapatkan pembekalan dan juga edukasi tentang teknologi baru ini,” ujarnya.
Upaya yang dimaksud diwujudkan bersamaan dengan komunikasi intensif sama-sama kementerian serta lembaga terkait, khususnya pada menyiapkan tenaga kerja yang siap masuk ke sektor berbasis teknologi tinggi. “Kami juga terus mengomunikasikan dengan biro kemudian kementerian terkait penyiapan tenaga kerja, supaya Indonesia mempunyai SDM yang digunakan siap bekerja di perusahaan teknologi,” kata dia.
Keseluruhan langkah itu, lanjut Luther, merupakan nilai tambah yang tersebut ingin dibawa BYD ke Indonesia, melampaui komitmen investasi. Dengan pendekatan ini, BYD hadir bukanlah cuma sebagai pendatang baru, tetapi sebagai bagian dari pembaharuan arah bidang otomotif nasional, demi menghadirkan masa depan yang lebih tinggi ramah lingkungan. (*)
Artikel ini disadur dari Tren Positif Mobil Listrik 2025, BYD di Puncak